Wednesday, 2 May 2018

SEJARAH: Memahami Sejarah Lisan dan Babad dalam Polemik Gaj Ahmada

Patung Gajah Mada

Para akademisi bidang sejarah berbicara tentang Gaj Ahmada dan klaim Majapahit sebagai kesultanan.
Baru-baru ini warganet heboh dengan viralnya sebuah tulisan yang disebut sebagai hasil penelitian Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta yang menyebut Majapahit sebagai kesultanan Islam dan Gadjah Mada adalah seorang muslim bernama Gaj Ahmada. 

Tirto telah menemui Ketua Tim Kajian Kesultan Majapahit Riyanto Tri Nugroho. Kepada Tirto, ia menjelaskan bahwa metode riset yang dilakukan pihaknya juga menggunakan metode sejarah lisan yang bertumpu pada tuturan lisan. “Sedangkan kami sering mendengar dalang-dalang sepuh bilang Majapahit itu kerajaan Islam,” kata Rinto.

Lalu, bagaimana sesungguhnya penggunaan sumber lisan dalam penulisan sejarah? 

Menurut sejarawan dari Universitas Indonesia, Andi Achdian, pada dasarnya penggunaan sumber lisan dalam penulisan sejarah sah-sah saja. Karena, menurutnya, bukan hanya di Indonesia saja hal itu di lakukan. Di Barat dan Afrika pun hal itu dilakukan. Mereka menulis sejarah berdasarkan puisi atau balada yang dituturkan secara turun temurun selama berabad-abad. 

"Di Eropa misalnya ada seorang penulis Italia bikin sejarah berdasarkan wawancara pada suatu generasi yang masih hidup dan masih bisa dipercaya. Kita juga masih punya rekaman bagaimana sejarah revolusi dilihat dari sudut pandang para pelaku, dan itu juga ada semacam otoritasi bahwa sumber itu kapan diwawancara dan pada saat apa diwawancara," kata Andi kepada Tirto (18/6). 

Salah satu riset penting dalam studi sejarah Indonesia yang menggunakan metode sejarah lisan adalah karya Anton Lucas tentang Peristiwa Tiga Daerah di Tegal, Brebes dan Pemalang. Karya Lucas itu berjudul Bamboo Spear Pierces the Payung: The Revolution against the Bureaucratic Elite in North Central Java in 1945 (edisi Indonesia menjadi Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi).

Andi menuturkan bahwa penggunaan sumber lisan dalam penulisan sejarah pada dasarnya telah ada sejak lama sebagai jawaban dari absennya dokumen tertulis sebagai sumber sejarah. 

"Pertama, sejarah lisan atau oral history terlahir sebagai kebutuhan sejarah untuk melengkapi sumber yang tidak bisa didapat dari dokumen formal. Seperti itu dasarnya. Itu sejak awal tahun 20-an atau sejak awal abad 20 muncul karena tidak semua nuansa kehidupan terkandung dalam dokumen, sehingga oral history menjadi bagian dari upaya menggali sejarah," papar Andi.

Sejarawan yang melakukan penelitian tentang Surabaya pada masa revolusi ini menambahkan bahwa, "Banyak masyarakat yang kepemilikan dokumennya tidak selengkap, misalnya, masyarakat Barat. Misalnya, katakanlah di Indonesia sekalipun, masih banyak sejarah yang tidak tercatat, sehingga untuk menggali atau melengkapi menjadi kebutuhan dibutuhkan oral history."

Kendati demikian, menurut Andi, ada dua hal yang patut diperhatikan dalam penulisan sejarah kontemporer menggunakan sumber lisan, yakni metodologi dan konteks. 

Dalam segi metodologi, kata Andi, peneliti pada tahap awal mestilah menerapkan kritik terhadap sumber. Kritik sumber ini penting agar tidak ada sumber-sumber yang sumir dijadikan pijakan sebuah penelitian. Tidak serta merta kesaksian seorang sepuh yang hidup pada zaman revolusi, misalnya, dengan sendirinya layak dipakai. Kritik sumber diperlukan agar tidak sembarangan dan asal-asalan memakai kesaksian.

"Untuk sebuah penulisan sejarah akademik, peneliti harus mampu membuat kritik terhadap sumber. Mampu melihat sumber secara kritis. Itu dasarnya," kata Andi. 

Menurutnya, apabila tahapan kritis terhadap sumber tersebut sudah dapat terlewati, maka penelitian separuhnya sudah menemui jalan terang dan bisa menuju tahap interpretasi dari temuan-temuan yang ada.

"Tapi, interpretasi, kan, juga butuh validasi, ya. Ada komparasi. Ada macam-macam. Dan itu saya kira problemnya adalah proses mendapatkan sumber sampai menarik kesimpulan harus dijabarkan dengan rinci. Tanya ke penulisnya bagaimana dia menjabarkannya," jelas Andi. 

Andi juga menyoroti penggunaan babad-babad dalam penulisan sejarah — hal yang dilakukan Tim Kajian Kesultan Majapahit. Dari penuturan Ryanto pada Tirto, mereka mengaku banyak menengok sejumlah babad yang kerap diabaikan oleh peneliti sejarah mainstream. 

Mengenai hal itu, Andi menyatakan babad-babad yang ada juga bukan berarti netral dalam sejarah. Karena, menurutnya, banyak babad yang ditulis oleh lebih dari seorang penulis dan diterbitkan oleh lebih dari satu penerbit. Andi lagi-lagi menekankan hal yang sudah diutarakan saat berbicara tentang sejarah lisan: kritik sumber.

"Babad Kediri itu, misalnya, sudah ada tiga penulis. Setiap penulisan selalu punya warna dan motif tersendiri. Jadi membaca babad saja kita harus kritis, ya. Ini siapa penulisnya, terbitnya kapan, karena pasti ada nuansa politis dan ideologis di balik sumber-sumber itu sendiri," jelasnya. 

Maka, dalam konteks viral Kesultanan Majapahit yang juga sempat dibukukan oleh Herman Sinung dengan judul Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi pada 2010, menurut Andi, "penulisnya harus berani menjabarkan metodenya dari penelitian sampai kesimpulan."

Distorsi dan Motif Ideologis

Peneliti sejarah LIPI Asvi Warman Adam tidak jauh berbeda dengan Andi. Menurutnya, sumber lisan bisa digunakan asalkan ada sumber tertulis sebagai pendamping. 

"Sejarah lisan itu ada bahayanya karena informan punya kesempatan kedua. Yang pengecut bisa berubah berani. Yang bersalah bisa berubah bersih. Oleh sebab itu, sebaiknya didukung sumber tertulis atau nara sumber yang lain," kata Asvi kepada Tirto (18/6).

Peluang terjadinya kesempatan kedua itulah yang menurut Andi sebagai distorsi, sehingga penggunaan sumber lisan membutuhkan konteks bagi sumber yang masih bisa ditemui dan masih hidup. Sedangkan, untuk peristiwa yang sudah terjadi berabad-abad lalu, bisa dilakukan dengan cara kodifikasi. 

"(Kesempatan kedua) Itu untuk yang kontemporer, ya. Tapi kalau untuk yang sudah berabad-abad atau ribuan tahun, tetap membutuhkan kritik yang panjang. Ada juga beberapa sumber yang (muatannya) diwarisi turun temurun dan kodifikasinya baru belakangan. Contohnya hadis juga begitu, kan? Turun temurun dan kodifikasinya baru belakangan," jelas Andi. 

Hal ini juga dapat digunakan untuk menghindarkan distorsi yang ditimbulkan dari penulis sejarahnya sendiri. Karena, distorsi bisa terjadi dari adanya tujuan ideologis dan politis tertentu dari penulisnya. 

"Distorsi itu memang terjadi ketika ada dua titik tolak ketika melakukan penelitian. Pertama, seperti yang tadi saya bilang, apakah itu sifatnya klangenan atau sifatnya ideologis, distorsi itu pasti terjadi. Karena mencari sumber hanya untuk membuktikan apa yang sudah ada di dalam pikirannya. Kedua dengan quote an quote ilmiah atau akademis. Jadi selalu dalam posisi: sejauh yang saya ketahui berdasarkan sumber ini, atau tidak bilang yakin," jelasnya.

Kaitannya dengan distrosi sejarah pada kategori pertama, menurutnya, sisi ideologis dan politis selalu bersifat post factum atau setelah fakta. Ini membuat peneliti sejarah akan cenderung mengarahkan penelitiannya pada temuan-temuan yang mendukung kebenaran di alam pikirnya dan mengabaikan fakta-fakta selain itu. 

"Misalnya M. Yamin menulis bahwa Indonesia sudah ada sejak 6000 tahun lalu, itu merupakan sebuah contoh kasus (penulisan sejarah) berdasarkan (kepentingan) ideologis nasionalis dan mengabaikan fakta-fakta yang ada bahwa orang Indonesia saja baru bisa bicara bersama tahun 1928. Tidak mungkin Indonesia sudah ada sejak 6000 tahun lalu," katanya. 

Untuk itu, menurutnya, penulis atau peneliti sejarah mesti jujur atas motifnya. Menurutnya, bila itu memang bermotif ideologis atau politis, sebaiknya katakan saja demikian. Bila murni akademik, katakan akademik. 

"Kalau memang jujur mau bilang ini ada kepentingan ideologis atau politis, ya, silakan saja. (Kalau tidak demikian) kita mendebat. Maksudnya menutupi yang ideologis dan politis dengan seolah-olah akademis. Ini yang kadang-kadang menjadi problem. Kalau mau bilang akademis, ya, terbuka saja. Enggak usah marah kalu dikritik orang. Biasa saja. Semua karya akademis pasti punya kesalahan," katanya. 

Islam Bukan Agama Dominan di Majapahit

Berangkat dari hal itu, kaitannya dengan Islam di era Majapahit, menurut Andi dalam Babad Kediri dijelaskan bahwa agama tersebut mulai masuk di akhir masa Majapahit. 

"Saya mungkin masih beranjak dari yang dianggap penulis buku itu sebagai mainstream atau ekstatis, ya. Bahwa seperti yang saya baca di Babad Kediri tentang keruntuhan Majapahit, ya. Di situ dijelaskan mengenai kedatangan saudagar-saudagar muslim. Kan sudah ada utusan Brawijaya yang menikah dengan muslim dari Campa yang menunjukkan unsur-unsur Islam itu mulai berkembang di Jawa. Corak Islamnya pun bukan Arab. Cuma kalau dibilang Islam sebagai suatu hal yang dominan itu kurang tepat. Karena memang ada politik isolasi saat itu," katanya. 

Politik isolasi tersebut dilakukan oleh Brawijaya V yang menikah dengan seorang putri muslim dari negeri Campa, sehingga dirinya memberikan kesempatan kepada muslim saat itu untuk mengembangkan agamanya asal terpusat di satu tempat saja. 

"Akhirnya setelah para saudagar muslim ini menjadi kuat secara ekonomi dan militer, barulah tersadar bahwa itu berbahaya dan mulai dilakukan pelarangan. Tapi itu terlambat dan lahirlah kerajaan Demak sebagai suatu perlawanan muslim pesisir terhadap kekuasaan di pedalaman," katanya. 

Andi pun menyatakan terdapat hal yang mesti dipertanyakan dalam penelitian sejarah mengenai perpindahan era Majapahit ke Demak, yakni penyerangan Demak ke Majapahit tersebut. 

"Kenapa ada perlawanan dari Kesultanan Demak yang baru terbentuk kepada Majapahit? Kenapa mereka perlu melakukan perlawanan?" katanya.

"Karena dari keyakinan masyarakat Islam yang di pesisir, masyarakat yang di pedalaman ini masih kafir dan harus diperangi. Majapahit akhirnya runtuh. Masyarakat Majapahit yang masih tetap memeluk Hindu akhirnya bergeser dan ada yang ke Tengger. Ada komunitas yang lebih kecil lagi kemudian ke Bali," lanjut Andi. 

Senada dengannya, Sejarawan JJ Rizal menyebut Majapahit memang sebagai sebuah kerajaan transisi dari Hindu ke Islam. Namun, menurutnya, menyebut Majapahit sebagai kesultanan dan Gadjah Mada seorang muslim hanya membuat historymenjadi story atau menjadikan sejarah sebagai legenda belaka. 

"Sebagai sebuah imperium dagang yang besar, Majapahit adalah sebuah kosmopolit yang inklusif. Dalam konteks itu tentu aneka agama dan kebudayaan yang mengikut pada jejaring perniagaan yang mondial merupakan kelaziman. Jadi banyak agama diberi tempat, termasuk Islam," kata Rizal.


Sumber: tirto.id

Ritual Cinta Terlarang dengan Guru Spiritual

Ilustrasi

Donwori (nama samaran) tak habis pikir. Pria berusia 32 tahun itu pusing tujuh keliling dengan perubahan sikap istrinya, sebut saja Sephia. Menurut Donwori, harusnya setelah ikut pengajian dengan guru spritual, perlakuan istrinya menjadi lebih baik.

Namun, sikap yang ditunjukkan Sephia malah berkebalikan. Wanita yang disayangi itu mulai melawan suami. Dia pun mulai mengusut penyebabnya. Ternyata, Donwori mendapati perempuan berumur 28 tahun itu membangun cinta terlarang dengan guru spritualnya yang sudah tua. Cocoknya menjadi ayah Sephia.

Dengan berat hati, Donwori meninggalkan Sephia karena sang istri telah melakukan suatu hal yang tak termaafkan. Sephia kepergok suami tidur dengan laki-laki tua yang tak lain adalah guru spiritualnya. “Bojoku (istriku, Red) akhire ngaku mari tak dedes (desak, Red) terus,” ujar pria kelahiran Tandes.

Donwori menjelaskan, dirinya curiga dengan hubungan gelap yang dilakukan sang istri. Kecurigaan tersebut muncul antaran sikap sang istri yang berubah drastis beberapa bulan belakangan ini.

Ini terjadi karena cinta terlarang dengan guru spiritualnya. “Akhir-akhir iki dek e kerep sowan nang mbah, seminggu iso ping papat (seminggu bisa empat kali, Red). Padahal jadwal ngaji seminggu mek pindo (hanya dua kali, Red), Senin karo Jumat,” ujar ayah dua anak ini.

Perubahan sang istri juga dirasa Donwori tidak normal. Sang istri nampak selalu resah dan marah-marah jika dalam satu hari tak bisa menemui guru spiritualnya. Dan sontak hal ini membuat Donwori ikut resah. “Dia kayak diguna-guna gitu sama mbah, kayak wes terikat,” lanjutnya.

Karena Donwori merasa ketergantungan sang istri yang semakin parah, dirinya lalu mengajak sang istri untuk berhenti mengaji pada guru spiritualnya. Sephia yang kadung terikat malah menolak ajakan sang suami. “Dek e muring-muring, lapo dadak prei, wong dulune (dia marah-marah, kenapa mengajak berhenti, dulunya, Red) aku sing ngajak, saiki dia wes nyaman,” ujar Donwori.

Karena menolak, akhirnya Donwori sempat membiarkan aktivitas sang istri. Ia pun hanya memutuskan untuk memantau dari jauh. Namun semakin hari, apa yang dilakukan Sephia semakin parah melebihi hubungan guru dan murid.

“Sering banget muleh tengah wengi, muleh-muleh adus kramas (Sering pulang tengah malam, tiba-tiba mandi keramas, Red),” ujarnya marah.

Karena kesal, Donwori lantas menegasi sang istri. Namun bukannya nurut, sang istri malah menantang Donwori untuk menceraikannya. Dikatakannya ia akan menjadi istri ketiga dari guru spiritualnya.

“Nyesel aku melu ngaji-ngaji ngono. Awale biyen ngajak bojo ngaji ben rejeki lancar, tapi malah bojoku saiki kecantol wong tuwek iku (Menyesal aku ikut ngaji begitu. Awalnya dulu mengajak istri biar rezekinya lancar, tapi malah istriku cinta dengan orang tua itu, Red),” sesalnya di kantin Pengadilan Agama Kelas Satu Surabaya.


Sumber: JPNN

Akibat Tertarik Pada Istri Tetangga

Ilustrasi

Lelaki tertarik wanita cantik, itu wajar. Tapi jika bini tetangga diincar juga, itu mah kurang ajar. Lelaki kurang ajar itu adalah Togap (38) bukan nama sebenarnya, warga Mandailing. Pas suami Bernita (30) nama samaran, pergi ke ladang langsung main perkosa saja. Aksi mesum itu baru terbongkar ketika Togap mau nambah lagi, tapi ketahuan suaminya.

Betapapun istri tetangga cantiknya laksana bidadari, tapi itu adalah “ikan hias” yang hanya boleh dilihat-lihat. Meskipun kalau digoreng gurih juga, jangan coba-cobalah. Meski berat risikonya, di era gombalisasi ini, banyak lelaki yang mencoba menggoreng ikan hias itu. Jika berhasil, itu petanda mau sama mau, sehingga takkan terbongkar rahasianya. Tapi jika gagal, pasti bakal ketahuan para tetangga dan malunya minta ampun.

Lihat nasib Togap warga Mandailing Natal (Madina) ini, gara-gara menggoreng paksa bini tetangganya, dia sebulan tak berani pulang. Begitu muncul kembali langsung suami Ny. Bernita melaporkannnya ke Polres Mandailing. Tapi karena barang bukti sudah tak ada, penyidikan jadi tersendat-sendat.


Togap pekerjaan sehari-harinya jadi petani. Jika sedang mengerjakan ladang, bisa seharian baru pulang. Penduduk desa itu pekerjaannya mayoritas seperti itu. Nah, di sela-sela pekerjaan menggarap ladang, otak kotor Togap terselip gagasan ingin pula menggarap Ny Bernita, bini Sahat (34) nama asal-asalan, tetangga sendiri. Dalam usia 30 tahun, meski sudah punya anak tiga, bodi dan penampilannya memang masih menjanjikan. Sekel nan cemekel!

Togap sangat kasmaran pada bini Sahat tersebut. Maka setiap melihat Bernita belanja ke warung, dia hanya bisa menelan ludah dan berpikir ke hal-hal yang jorok. “Kalau saya nekat, dua putaran belum tentu kena juga…..” Kata batin Togap.

Tapi setan selalu membujuk, jadi lelaki jangan takut bayangan, karena bayangan itu hanya hitam tanpa realitas.

Ketimbang kucing nggondol sabun kala menjing munggah mudun (ngiler banget), mendingan langsung direbut paksa saja.

“Ole-ole kota raja, kalau nggak boleh ya diperkosa saja,” kata setan memberi semangat.

Sejak itu nyali Togap meningakat. Setiap ketemu Bernita selalu bertanya, suami ada di rumah? Jawab Bernita kadang-kadang ada, kadang ada di ladang. Sama sekali dia tak pernah berpikir yang aneh-aneh, karena itu dianggapnya sebuah kepedulian antar tetangga belaka.

Tapi pada kejadian 1,5 bulan lalu itu lain. Ketika Bernita menjawab sedang di ladang, langsung saja Togap menyergap dan membatingnya ke ranjang. Bernita dilucuti dan kemudian digauli secara paksa. Selesai berbuat dia menempelkan golek ke leher Bernita sambil mengancam, “Berani cerita sama suami, khekkkkk…..mati tak potong lehermu.”

Tentu saja Bernita ketakutan, sehingga dia tak mau cerita ke suami. Bagi Togap, merasa konsesus dipatuhi, lain hari pengin nambah lagi. Tapi baru mau mendekati, langsung ketahuan suami dan Togap pun kabur. Hal ini membuat Sahat curiga, dan mengakulah Bernita bla bla bla……

Tentu saja Sahat marah. Tapi ketika Togap diajak duduk bersama malah kabur, sebulan kemudian baru pulang. Sahat pun segera melaporkan ke Polres Mandailing. Tapi sayangnya, bukti yang disampaikan hanya celdam sobek milik Bernita saja, sedangkan bukti sperma Togap tidak ada. Akibatnya penyidikan ini jadi berlarut-larut. Apa Togap harus memperkosanya lagi? Enakan dia dong!

Sumber: JPNN

8 Keluarga Sultan Asahan Dibunuh dan Dibuang ke Sumur

Penggalian sumur tua tempat pembuangan keluarga Kesultanan Asahan.

Sebanyak 8 orang keluarga Sultan Asahan dibunuh dan dimasukkan ke sumur tua di Afdeling VI PTPN III kebun Sei Dadap, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan. Sumur itu digali keluarga Kesultanan Asahan, Senin (30/4).

Menurut keluarga Kesultanan Asahan Tengku Muhammad Ikbal Bustamam, ada delapan korban di dalam sumur di antaranya Raja Kohar, Kadus Jamaluddin, Sulaiman, Raja Baharuddin, dan Tengku Ismail. Mereka merupakan korban revolusi sosial di kesultanan Asahan pada tanggal 3 Maret 1946.

Informasi dihimpun, sumur tua itu merupakan tempat pembuangan/kuburan massal keluarga Kesultanan Asahan yang menjadi korban Revolusi Sosial Tahun 1946.

Ketua Panitia Indra Syah menjelaskan, penggalian ini sempat tertunda karena kendala masalah izin penggalian di titik lokasi Afdeling VI PTPN III kebun Sei Dadap Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Asahan.

Sebelumnya, undangan dan jadwal kegiatan mengenai penggalian dan pemakaman kembali korban Revolusi Sosial 1946 Kesultanan Asahan ini sempat tersebar ke Masjid Raya Sultan Achmadsyah Tanjungbalai.

Di lokasi terlihat sejumlah karyawan perkebunan PTPN III menutup akses menuju titik penggalian dengan alasan menunggu perintah pimpinan.

Untuk diketahui, kuburan diduga korban Revolusi Sosial 1946 di kawasan Afdeling VI PTPN III akan digali Tim Lembaga Budaya Melayu Tuah Deli dan Kesultanan Asahan.

Awalnya rencana penggalian mulai dilaksanakan Kamis (29/3) dan dimakamkan kembali di komplek Masjid Raya Sultan Ahmadsyah kota Tanjungbalai. Penggalian ini merupakan inisiatif dari keturunan para korban revolusi sosial 1946.
Warga menyakskan penggalian sumur tempat pembuangan keluarga Kesultanan Asahan.

“Penggalian ini merupakan inisiatif dari keturunan para korban revolusi sosial 1946. tujuannya untuk mengungkap kebenaran dan menggali sejarah bahwa pernah terjadi pembantaian besar-besaran di Sumatera Timur atau sering disebut revolusi sosial,” kata Indra Syah.

Indra menyebutkan, proses penggalian berlangsung selama tiga hari. Mulai dari pembersihan lokasi, persiapan penggalian, pembacaan doa dan ritual adat penggalian, penggalian dan pemberangkatan jenazah ke Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, di Tanjungbalai.

Selanjutnya pelaksanaan fardhu kifayah (sholat jenazah), takziah keluarga dan kerabat, pemakaman kembali di komplek Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, dan terakhir doa.

“Direncanakannya kegiatan ini kita lakukan tidak terlepas dari keinginan keturunan para korban yang ingin orang tua mereka dimakamkan secara syariat Islam melalui fardhu kifayah,” ujar Indra Syah.


Sumber: MetroAsahan

Setelah Keluarga Sultan Dibunuh, Harta Juga Dirampas

Sultan Asahan Sultan Shaibun Abdul Jalil Rahmat Syah III (kiri) dan foto Permaisuri Sultan Asahan Tengku Nurasyikin dan istri Gubernur Belanda foto bersama.

Pada revolusi sosial tahun 1946 sebanyak 8 orang keluarga Sultan Asahan dibunuh dan dimasukkan ke sumur tua di Afdeling VI PTPN III kebun Sei Dadap, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan. Senin (30/4) lalu, pihak keluarga kesultanan telah menggali sumur dimaksud.

Menurut Keluarga Kesultanan Asahan Tengku Muhammad Ikbal Bustamam, ada delapan orang di dalam sumur yang menjadi korban revolusi sosial 1946 di antaranya Raja Kohar, Kadus Jamaluddin, Sulaiman, Raja Baharuddin, Tengku Ismail. Mereka merupakan korban revolusi sosial di kesultanan Asahan pada tanggal 3 Maret 1946.

Jauh sebelum peristiwa revolusi sosial 1946, Kesultanan Asahan dijabat oleh Sultan Muhammad Hussein II yang melantik Tengku Alang Yahya sebagai Bendahara dan mengangkat anak sulungnya, Tengku Amir, sebagai Tengku Besar Asahan atau calon Sultan. Tetapi Tengku Amir mangkat tahun 1913 dan diangkatlah Tengku Saibun sebagai gantinya pada 7 Juli 1915.

Sultan Muhammad Hussein II mangkat pada usia 53 tahun, oleh karena Tengku Saibun masih kanak-kanak, Tengku Alang Yahya (Bendahara) dilantik menjadi pemangku sultan dengan gelar Tengku Regent Negeri Asahan.

Semasa ia menjadi Tengku Regent ini, Beliau menerima dua anugerah, yaitu “Officier der Orde van Oranje Nassau” dan “Ridder der Orde van den Nederlanschen Leeuw”.

Pada 15 Juni 1933, Tengku Saibun ditabalkan menjadi Sultan Asahan XI dengan gelar Sultan Saibun Abdul Jalil Rahmat Syah di Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjungbalai. Istri Beliau, Tengku Nurul Asikin binti Tengku Al Haji Rahmad Bedagai, ditabalkan sebagai Tengku Suri (Tengku Permaisuri) Negeri Asahan, pada 17 Juni 1933.

Pendudukan Jepang di Indonesia sejak Maret 1942 hingga 1945 mengakibatkan keadaan yang semakin carut-marut. Tiga hari setelah jatuhnya bom di Hiroshima, Soekarno meproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Di saat yang sama pula, diumumkanlah pemerintaha Republik Indonesia yakni Soekarno sebagai Presiden dan Moh Hatta sebagai Wakilnya. Dengan demikian, dimulailah revolusi republik di seluruh wilayah Indonesia.

Pemimpin-pemimpin pergerakan di Indonesia, mendaulat Soekarno dan Hatta sebagai pemimpin tertinggi mereka. Tetapi pada umumnya perkembangan revolusi di kebanyakan daerah di Sumatera Utara terlepas dari pergerakan di Jawa. Revolusi di Sumatera bermula pada Oktober 1945 pada saat tentara sekutu tiba di Sumatera untuk melucuti tentara Jepang.


Sumber: MetroAsahan

ERAMAS UNTUK SUMUT BERMARTABAT (EDY-IJEK)


PERSEMBAHAN DARI KAMI.
"TEAM IT DPD KNPI ASAHAN"
===ERAMAS UNTUK SUMUT YANG BERMARTABAT===

Begini cara kami mendesain mereka.
Semua yang waras-waras ajalah.
Karena dia yang punya hak untuk memilih siapa pemimpin mereka.
Jangan melibatkan yang tidak waras dalam hal ini.
Karena mereka tidak tahu apa-apa.
Sebab siapapun pemimpnnya.
Mereka tetaplah demikian.
Selamat menyaksikan.
Mohon maaf bila terdapat kekeliruan.
Karena baru belajar editor video.
Mohon maaf juga bila terdapat kesamaan cerita dan nama apa lagi foto yang tampil dalam video ini.
Semoga kedepan lebih baik lagi.
TERIMA KASIH.

SALAM SANTUN DARI KAMI.
TEAM IT DPD KNPI ASAHAN.
Rudy S. Marpaung
Agung Irwanto
Adi Suendra
Sori Faisal
Citra Buya Khansa Alwi

Powered by:
Agus Ramanda
Efrianto Rany
Syaid Muhsyi
Khairul Anhar Harahap
Agus Bahari
Budi Keren

Tuesday, 27 March 2018

PEMUDA : PENENTU SEJARAH BANGSA (3)

Cakrawala Juang Pemuda Indonesia
“Koridor dan Potensi Kedigdayaan Bangsa”


Cakrawala Juang Pemuda Indonesia telah terbentang sangat terang benderang, sejak jaman tradisional Kerajaan Majapahit hingga Indonesia modern, yang membutuhkan Reformasi dan Demokratisasi, yang diperjuangkan mahasiswa dan pemuda pada tahun 1998.

Cakrawala Juang Pemuda Indonesia adalah pertautan dan pertalian kesejarahan yang berkesinambungan yang mesti dipahami, disadari serta diamalkan pemuda dari masa ke masa.

Cakrawala Juang Pemuda Indonesia adalah keterpanggilan tugas dan tanggungjawab untuk senantiasa menjadi subjek sejarah yang dapat menghantar rakyat dan bangsa menuju “Kedigdayaan” seperti yang diperlihatkan Patih Gajah Mada, dengan emporium Kerajaan Majapahitnya yang menjadi landasan bangsa dan Negara modern Indonesia yang diperjuangkan generasi 1928 dan 1945.

Cakrawala Juang Pemuda Indonesia adalah kedudukan, kiprah dan keberanian tampil menjadi pelopor pergerakan dan perjuangan di tanah air Indonesia agar segenap rakyat, bangsa dan negaranya senantiasa solid dan sinergis dalam membangun kemajemukan menuju kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, kedamaian, kemerdekaan yang bermartabat dan serta membawa maslahat bagi umat manusia di dunia.
Cakrawala Juang Pemuda Indonesia masa kini hingga ke depan adalah keterpanggilan sejarah untuk memperjuangkan pertalian dan kesinambungan cita-cita dan tujuan luhur Sumpah Pemuda, Proklamasi, Reformasi dan Demokratisasi yang masih jauh dari harapan dan kenyataan.

Cakrawala Juang Pemuda Indonesia masa kini adalah segera memacu pecepatan, perkuatan dan perluasan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, kesetaraan dan kemaslahatan rakyat, bangsa dan Negara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak terjebak dalam primordialisme dan sektarianisme yang dangkal.

Cakrawala Juang Pemuda Indonesia adalah mengembangkan kemajemukan rakyat menuju bangsa dan Negara Indonesia yang Digdaya memiliki harkat dan martabat tinggi di antara bangsa-bangsa lain di dunia sebagaimana yang telah diperlihatkan pada masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit jauh di masa lalu.


Sumber: SeputarKawulamuda

Statistics

About Me

authorBUNG AGUS RAMANDA (Ketua) BUNG BASUKI, S.Pd., MM. (Sekretaris)
Learn More →